Baju gantung yang melambai lambai dengan memamerkan bagian bawah punggungnya yang berkulit mulus itu menyusul laju roda Vespaku. Dia langsung menempatka posisinya tepat di depanku. Mau tak mau aku harus memperlambat laju Vespaku. Jika tidak, niscaya roda Vespaku akan mencium knalpot motor gadis itu.
Baju gantung yang melambai-lambai dan kulit mulus punggungnya yang memanggil-manggil seprti itu sebenarnya bukanlah pemandangan yang asing selama aku sering menggelindingkan vespaku dijalan. Pemandangan semacam itu berserakan di jalan-jalan. Berseliwer di antara geliat asap kendaraan. Baju gantung seukuran tubuh keponakanku yang berusia balita itu entah kenapa bisa menjadi alasan modis bagi mereka. Aku sungguh tidak habis pikir,baju balita kok menjadi mode yang digauli oleh para remaja putri hingga ibu-ibu muda. Junkies,kata mereka .
Baju gantung yang melambai-lambai dengan membentangkan sebagian bawah punggungnya yang mulus itu kini menantang di depanku.Kulit mulus bawah punggung itu menyeruak,langsung menyumpal mataku dan menyita segenap konsentrasiku berkendaraan di jalan. Aku tambah terkejut sewaktu memergoki lingkaran celana dalam merah marun mengintip pula. Lingkaran penutup aurat itu bagai bibir ranum yang tersenyum mesum.
Oh, aku mau kemana ini.Baju gantung yang melambai,kulit mulus bawah punggung yang memanggil dan lingkar celana dalam merah marun perlahan-lahan menutup jalan yang ada di depanku. Tujuan perjalananku seketika terpenggal. Aku kehilangan arah Vespaku melaju. Aku sudah tidak tahu lagi ke mana arah hanyutnya roda Vespaku. Otakku telah menyelinap dan tersekap dalam baju gantung itu.Hatiku telah terperangkap di dalam sekilas warna merah marun genit itu.
Ahh,betul-betul memabukkan!
Vespa terus melaju.Entah berapa kecepatannya.Entah berapa persnelingnya.Entah berapa sisa bahan bakarnya.Entahlah,apakah jalanan yang kulewati ini masih ramah kepada roda Vespaku yang berdiameter kecil.Entah nyasar ke mana.Entah apa nama jalan atau daerah yang kumasuki ini.Entahlah.Aku sudah tidak peduli,apakah ada rambu-rambu,apakah ada polisi lalu-lintas,apakah ada lubang,apakah ada galian kabel,apakah ada tronton parkir di depan,apakah ada orang menyeberang……
Aku benar-benar kehilangan kendali.Sayup-sayup suara tegas mengombak,’’Kejarlah kesucian,kebersihan hati…’’Namun tidak seketika pun juga aku menggubrisnya.Mendadak senyap.Pemandangan di depanku…..mana tahan! Baju gantung yang melambai–lambai dengan kulit mulus bawah punggungnya memanggil-manggil itu telah merampas matuku dan merampok otakku.
Maka,ketika lambaian baju gantung dan panggilan kulit mulus bawah punggung itu berbelok ke arah jalan sebelah kiri, Vespaku pun mengalir ke kiri.Seolah aku tidak rela melewati pemansangan itu.Mataku betul-betul menempel kepala kulit mulus bawah punggung itu. Merah marun menyumpali tempurung kepalaku. Aku tidak mau kehilangan semua itu.
Baju gantung yang melambai-lambai dengan kulit mulus bawah punggungnya memanggil-manggil itu tiba-tiba berbelok lagi,menuju gerbang.Vespaku turut berbelok seolah terseret oleh kulit mulus bawah punggungnya,hingga ke mana dia menuju kesitu pula Vespaku mengarah.Kulit mulus dan berdipan merah marun!Aku mabuk kepayang.
Baju yang melambai tadi terlanjur menjilati birahiku hingga membara begini.Birahiku bangkit dengan gagah perkasa,kulit mulus itu yang memanggil nafsuku,dan geramku yang bergejolak untuk menuntaskan hasrat yang telah menyeret Vespaku sampai kesitu. Keindahan yang paling indah.Sejuta kenikmatan di depan mata.Lingkaran merah marun itu,kesumat syahwatku,dan isi di dalam busana menganga itu telah menelan jiwaku.
Baju gantung yang melambai-lambai dengan kulit mulus bawah punggungnya memanggil-manggilitu berhenti di antara motor–motor yang sudah lebih dulu tergeletak di halaman.Aku menyusul di sebelahnya.Kulirik wajahnya.Semua kulirik.Jika ada kesempatan,ingin rasanya kupetik kelopaknya!
Baju gantung itu tidak lagi melambai-lambai.Kulit mulus bawah pungungnya pun hanya berbisik-bisik.Dia menoleh ke samping,ke arahku.Mata kami berpapasan.Senyum aduhainya terbit menyapaku.Seketika senyumku menjabat hangat senyum gadis itu.Dia menyerahkan senyumnya lagi.Aku pun menyerahkan senyumku.Dia menyambut senyumku dan menggenggam dalam senyumnya.Aku pun menyambut senyumnya dan menggenggam dalam senyumnya,tapi kugenggam dalam…celanaku.Maaf,celanaku! Aku benar-benar telah tidak sabar untuk menguliti gadis yang berbaju gantung itu.
Baju gantung itu memang tak lagi melambai-lambai.Dia berjalan mendekatiku.Aku tertegun sejenak.Pemandangan di depan ku kian dahsyat.Baju balita berbahan sutera yang dipakainya itu jelas-jelas mencetak tubuhnya yang…..alamaaakkkk! Tidak ada pelapis apa-apa di dalamnya.Syur sekali! Lekak-lekuk dan tonjolanya telah menonjok mataku,sehingga kurasa akal sehatku semakin sempoyongan menunggu roboh.
Jarak kami kian dekat.Tinggal sekian meter.Aroma wewangian menyemburat dari tubuh gadis berbaju separuh ini.Aroma itu menyebar,menyambar ke mana-mana.Termasuk ke arahku.Apalagi ketika jarak kita hanya satu meter.Hanya satu meter!
Aroma wewangian dari gadis berbaju melambai-lambai itu menciumi lubang hidungku hingga mengobarkan api birahi laksana api siram bensin.Membius akal sehatku.yang tinngal hanyalah hasrat yang mencuat,yang telah menjadi dendam kesumat dan tidak kesabaran kecuali hendak mengupas gadis berbaju gantung itu sepuas-puasnya.
Tanggannya tiba-tiba menggamitku,dan mengajakkuke suatu tempat yang,entah dimana itu.Sebuah bangunan dengan orang yang sedang bergoyang di bawah lampu warna-warni dan musik dan hingar-bingar.Seperti sebuah hajatan.Dia memelukku dan mengajakku bergoyang seperti orang-orang di situ.Aku ikut bergoyang.Betapa menyenangkan.lantas dia melepas satu demi satu kain yang menempeli tubuhnya.
“Nikmatilah,nikmatilah,”bisiknya dengan belaian pada bagian tubuhku yang peka sentuhan tertentu.Alangkah sesah sekujur celanaku.
Kepalaku seperti diterjang balok-balok beton. Telinga terasa pecah.Mata di kerubungin kunang-kunang.Hidung terasa tak bertulang,seperti mengucurkan cairan merah kental.Gigi terasa tanggal.Sekujur tubuh terasa perih.Tulang-tulang terasa patah.aku tak berdaya.Aduh!Sakit sekali seperti mati rasanya…
Sebentar kudengar suara-suara tapi bergelombang seperti di permainkan topan dan badai.Orang-orang?Siapa mereka?Apakah mereka yang berpesta tadi ?
Baju gantung yang melambai-lambai tadi sudah tak ada lagi.kulit mulus bawah punggung yang memanggil-manggil tadi sudah tak ada lagi.Pusar mungil yang menggoda tadi pun sudah tak ada lagi.Yang kulihat hanyalah gelap-gulita dan lalu-lalang kunang-kunang.
Ohh,di manakah ini?Di mana dia?Aku….aku…aaahhhh….
Baju gantung yang melambai-lambai dengan memamerkan kemulusan bagian bawah punggungnya berkelebat kembali di depanku,hendak mengajak ku pergi.Barang kali pesta masih seperempat jalan Aku terkurung dalam baju gantung gadis itu.